Oleh : Dr. Muhammad Irfan, S.H.I. M.Sy
Editor : Redaksi DIFa TV Lampung
Assalamualaikum wr.wb
Alhamdulillah jumpa lagi dalam Tausiah kita hari ini, semoga Pemirsa selalu dalam lindungan dan Ridho Allah SWT, aamiin ya Rabbal ‘aalamiin
هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَأَنتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ
Artinya: “Mereka (istri-istrimu) adalah pakaian bagimu, dan kamu adalah pakaian bagi mereka.” (Q.S. Al-Baqarah: 187)
Kata pakaian dalam ayat tersebut tidak dimaknai secara harfiah sebagai busana yang dikenakan oleh manusia, melainkan mengandung makna simbolis sebagai pelindung, penutup, sekaligus penghangat. Hal ini menggambarkan bahwa suami dan istri memiliki kedudukan yang saling melengkapi. Keduanya menjadi tempat untuk saling memberikan perlindungan, menjaga kehormatan, serta menutupi kekurangan satu sama lain. Dalam kehidupan rumah tangga, prinsip kebersamaan harus senantiasa dijunjung tinggi, yakni saling menopang dalam keadaan sulit maupun lapang, sebagaimana ungkapan berat sama dipikul dan ringan sama dijinjing.
Setiap pasangan suami istri tentu mengharapkan kehidupan rumah tangga yang harmonis dan penuh kebahagiaan. Namun, berbagai persoalan dan dinamika kehidupan merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari. Permasalahan dapat hadir kapan saja dan dalam berbagai bentuk. Oleh karena itu, tugas pasangan bukanlah menghindari persoalan atau berharap agar kehidupan rumah tangga terbebas dari masalah, melainkan membangun kesatuan dan kerja sama untuk menghadapinya. Sebesar apa pun tantangan dan sekuat apa pun badai yang menerpa, apabila dihadapi dengan kebersamaan, komunikasi, dan saling pengertian, setiap persoalan akan memiliki jalan penyelesaian. Dengan demikian, keluarga yang bahagia bukanlah keluarga yang tidak pernah mengalami masalah, melainkan keluarga yang mampu menyelesaikan setiap persoalan secara bersama-sama.
Sebagian pasangan masih beranggapan bahwa terpenuhinya kebutuhan materi merupakan jaminan utama terciptanya kebahagiaan dalam rumah tangga. Padahal, kenyataan menunjukkan bahwa kondisi ekonomi yang mapan tidak selalu menjamin keharmonisan hubungan suami istri. Bahkan, tidak sedikit perceraian yang terjadi pada pasangan dengan kondisi ekonomi yang berkecukupan. Pertengkaran dan konflik rumah tangga pun terkadang justru muncul ketika berbagai kebutuhan materi telah terpenuhi. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa kecukupan materi bukanlah satu-satunya faktor yang menentukan kebahagiaan keluarga. Ada kebutuhan lain yang tidak kalah penting, yaitu kebutuhan emosional, psikologis, dan spiritual yang harus diperhatikan oleh setiap pasangan.
Dalam kehidupan rumah tangga, terdapat dua pribadi yang memiliki jiwa, perasaan, kehendak, dan kebutuhan masing-masing. Keduanya senantiasa menjalani aktivitas, berkomunikasi, bekerja, mengambil keputusan, serta memiliki harapan dan keinginan. Oleh sebab itu, pemenuhan kebutuhan sandang, pangan, dan papan memang menjadi bagian penting dari tanggung jawab rumah tangga, tetapi hal tersebut tidak boleh membuat pasangan melupakan kebutuhan batin satu sama lain. Suami dan istri juga membutuhkan perhatian, pengertian, penghargaan, bantuan, serta komunikasi yang baik. Pasangan bukanlah robot yang dapat terus-menerus diperintah tanpa mempertimbangkan perasaannya, begitu pula bukan mesin yang dituntut bekerja tanpa mengenal lelah dan batas kemampuan.
Dengan demikian, salah satu kunci untuk mewujudkan kebahagiaan rumah tangga adalah kemampuan suami dan istri dalam memenuhi kebutuhan batin serta menyentuh sisi emosional pasangannya. Perhatian terhadap kebutuhan jiwa hendaknya tidak dikesampingkan hanya karena terlalu berorientasi pada pemenuhan kebutuhan materi. Hal tersebut dapat diwujudkan melalui berbagai tindakan sederhana, seperti meluangkan waktu untuk berbincang, membantu pekerjaan pasangan, memberikan apresiasi atas usaha yang telah dilakukan, menyampaikan teguran dengan santun, menanyakan kebutuhan pasangan, serta menyediakan waktu untuk bersama. Apabila suami mampu memperlakukan demikian kepada isteri dan isteri bisa berperilaku demikian kepada suami maka akan hadir kebahagiaan yang tumbuh secara abadi.
Saling menghormati antar pasangan merupakan ajaran dan anjuran dalam Islam sabda Nabi Muhammad Saw.
أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا، وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ
Artinya, “Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya di antara mereka. Dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya” (H.R. At-Tirmidzi No. 1162).
Disaat isteri mendapatkan kebaikan dari suami maka isteri yang baik juga akan memperilakuakan suaminya dengan cara yang baik dan terpuji.
Assalamualaikum wr.wb







