OPINI
Oleh: Majid Lintang *)
Pagi di Lapangan Soetadi Ronodidjojo, Sukabumi, tak hanya dipenuhi barisan tegap dan derap sepatu yang menghentak tanah. Di tempat itu, Kamis, 4 Juni 2026, ribuan kisah kecil berujung pada satu momen yang sama: pelantikan.
Ada mata yang berkaca-kaca di tribun keluarga. Ada orang tua yang diam-diam mengusap air mata sambil mencoba tetap tersenyum. Ada pula para peserta didik yang berdiri tegak, menyembunyikan getar di balik wajah yang dilatih untuk tampak tenang.
Sebanyak 1.949 peserta didik resmi menyandang pangkat perwira melalui Upacara Penutupan Pendidikan dan Pelantikan Perwira Polri Sekolah Inspektur Polisi (SIP) Angkatan ke-55 Resimen Desaka Dhira Pradipa Gelombang I Tahun Anggaran 2026.
Mereka terdiri atas 1.798 Polisi Laki-Laki, 50 Polisi Wanita, serta 101 peserta didik Program Khusus Pusdik Intelkam. Angka-angka itu tampak administratif. Namun di balik statistik tersebut tersimpan ribuan cerita tentang pengorbanan, kegagalan yang diperbaiki, hingga tekad untuk kembali berdiri.
Sebab menjadi perwira, pada akhirnya, bukan sekadar soal pangkat baru.
Ia adalah pertaruhan baru.
Upacara itu dipimpin langsung Wakapolri, Komjen Pol. Dedi Prasetyo, didampingi Kalemdiklat Polri Komjen Pol. R.Z. Panca Putra S., serta dihadiri Kasetukpa Lemdiklat Polri Brigjen Pol. Dirin. Di antara para pejabat yang hadir, tampak pula Plt. Kabag SDM Rorenminops Korbrimob Polri Brigjen Pol. Djadjuli.
Kehadiran para petinggi Polri bukan sekadar memenuhi protokol. Ia menjadi simbol bahwa regenerasi kepemimpinan bukan pekerjaan yang dapat diserahkan kepada waktu semata. Ia harus dipersiapkan, diawasi, dan diwariskan.
Karena institusi sebesar Polri sesungguhnya hidup dari satu hal yang sederhana: estafet.
Tongkat kepemimpinan harus terus berpindah tangan tanpa kehilangan arah.
Dalam amanatnya, Wakapolri menyampaikan sesuatu yang terdengar sederhana, tetapi justru menjadi tantangan terbesar aparat penegak hukum hari ini.
Masyarakat, katanya, tidak menuntut polisi yang sempurna.
Masyarakat hanya menginginkan polisi yang hadir.
Polisi yang mau mendengar sebelum menghakimi.
Polisi yang cepat merespons sebelum keluhan berubah menjadi kemarahan.
Polisi yang peduli, bukan sekadar mencatat laporan.
Kalimat itu mungkin terdengar normatif. Namun dalam situasi ketika kepercayaan publik terhadap institusi sering naik-turun mengikuti berbagai peristiwa yang viral di media sosial, pesan tersebut menjadi pengingat penting.
Bahwa wajah Polri sesungguhnya tidak ditentukan oleh konferensi pers di Jakarta.
Ia ditentukan oleh petugas SPKT yang melayani warga dengan sabar pada tengah malam.
Ditentukan oleh anggota PAMAPTA yang membantu korban kecelakaan di jalan raya.
Ditentukan oleh bagaimana seorang perwira muda memperlakukan masyarakat kecil yang datang dengan wajah bingung dan harapan yang tersisa.
Di sanalah citra institusi dipertaruhkan setiap hari.
Pelantikan itu sendiri bukan garis akhir.
Selama enam bulan, para peserta didik ditempa dengan pelajaran kepemimpinan, kemampuan manajerial, serta keterampilan teknis kepolisian. Mereka dididik bukan hanya agar piawai menerima perintah, melainkan mampu mengambil keputusan ketika keadaan tak memberi waktu untuk berpikir panjang.
Mereka dipersiapkan menjadi pengendali lapangan.
Menjadi penanggung jawab.
Menjadi pihak yang harus tetap tenang ketika orang lain panik.
Namun tantangan sesungguhnya justru dimulai setelah lapangan upacara ditinggalkan.
Sebagian besar lulusan SIP Angkatan ke-55 akan kembali ke wilayah tugas masing-masing. Mereka akan bertemu realitas yang jauh lebih rumit daripada simulasi pendidikan.
Mereka akan menghadapi masyarakat yang semakin kritis.
Berhadapan dengan tuntutan pelayanan serba cepat.
Bekerja di tengah derasnya arus informasi, ketika satu kesalahan dapat menyebar ke seluruh negeri dalam hitungan menit melalui layar telepon genggam.
Pada titik itu, integritas bukan lagi slogan yang dipasang di dinding kantor.
Ia menjadi pilihan yang harus diambil setiap hari.
Menolak jalan pintas.
Menahan diri dari penyalahgunaan kewenangan.
Berani berkata tidak pada praktik-praktik yang mencederai kepercayaan publik.
Sebab pangkat mungkin diberikan melalui upacara.
Tetapi kehormatan harus diperjuangkan sepanjang karier.
Kehadiran Plt. Kabag SDM Rorenminops Korbrimob Polri Brigjen Pol. Djadjuli dalam prosesi pelantikan mencerminkan komitmen Korps Brimob dalam mendukung regenerasi kepemimpinan Polri. Bahwa pembinaan sumber daya manusia tak cukup berhenti pada perekrutan, melainkan harus terus dirawat melalui pendidikan, pengembangan, dan keteladanan.
Indonesia hari ini membutuhkan polisi yang mampu beradaptasi dengan zaman tanpa kehilangan nurani.
Perwira yang tegas, tetapi tetap humanis.
Profesional tanpa menjadi kaku.
Dekat dengan masyarakat tanpa kehilangan wibawa.
Maka ketika barisan perwira muda itu mengucapkan sumpah dan menerima pangkat baru, sesungguhnya yang dilantik bukan hanya jabatan.
Yang dilantik adalah harapan.
Harapan bahwa di kantor-kantor polisi yang tersebar dari kota besar hingga pelosok negeri, akan hadir generasi baru yang memahami bahwa kekuasaan bukan untuk ditunjukkan, melainkan digunakan untuk melayani.
Dan di tengah berbagai ujian yang akan mereka hadapi kelak, masyarakat hanya akan mengingat satu hal sederhana:
Apakah ketika dibutuhkan, polisi benar-benar ada.***
*) Wartawan Senior “Lampung Post” tinggal di Kalimantan.







