INFORMASI
DIFa TV Terbit Sejak 1 Agustus 2004 - DIFa TV Merupakan Media Siber Online dan Koran Cetak. Kantor Redaksi DIFA TV Berada Di Jalan Sultan Agung, Gang Perdana Jaya, Labuhan Ratu, Bandar Lampung, Lampung.

Warteg, Statistik, dan Negeri yang Sibuk Menghitung Angka

Oleh: Majid Lintang *)

Di Indonesia, ada dua jenis data yang sering bertengkar.

Yang pertama adalah data yang lahir dari meja rapat berpendingin udara, lengkap dengan grafik warna-warni dan istilah yang terdengar meyakinkan. Yang kedua adalah data yang lahir dari wajan yang mulai jarang berasap, dari kursi plastik yang makin banyak kosong, dan dari warteg yang mulai mengurangi jumlah lauk karena takut tak habis terjual.

Minggu ini, pertengkaran itu kembali muncul.

Sejumlah pedagang warteg mengeluhkan omzet yang terus menurun. Pembeli berkurang. Masakan dikurangi. Harga bahan pokok naik. Mereka tidak sedang membaca laporan ekonomi atau indeks konsumsi. Mereka hanya menghitung berapa piring nasi yang terjual hari itu.

Namun di sisi lain, pemerintah mengingatkan agar jangan buru-buru menyimpulkan daya beli masyarakat sedang melemah hanya karena beberapa warteg mengeluh sepi.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bahkan mengingatkan bahwa lima warteg yang sepi belum tentu menggambarkan kondisi seluruh Indonesia. Bisa saja warteg itu kalah bersaing. Bisa saja lokasi usahanya tidak strategis. Bisa saja ada faktor lain.

Secara akademis, pernyataan itu benar.

Satu titik memang tidak bisa mewakili seluruh peta.

Masalahnya, rakyat tidak hidup di dalam peta.

Mereka hidup di titik-titik itu.

Ekonom menyebutnya data agregat. Pedagang menyebutnya uang belanja.

Pemerintah melihat indeks ritel tumbuh positif. Pemilik warteg melihat panci sayur yang tersisa hingga malam. Pemerintah menghitung konsumsi nasional. Pedagang menghitung berapa pelanggan tetap yang kini datang dua hari sekali.

Keduanya sama-sama menghitung. Hanya saja yang satu memakai statistik, yang satu memakai insting bertahan hidup.

Ironisnya, negeri ini sering kali lebih percaya pada angka yang berada jauh daripada keluhan yang berada dekat.

Ketika seorang petani mengeluh pupuk mahal, jawabannya adalah produksi nasional meningkat.

Ketika nelayan mengeluh solar sulit didapat, jawabannya adalah pertumbuhan sektor maritim positif.

Ketika pedagang warteg mengeluh pembeli berkurang, jawabannya adalah indeks konsumsi masih tumbuh.

Seolah-olah statistik telah menjadi obat universal untuk segala keresahan.

Padahal sejarah menunjukkan bahwa banyak krisis besar justru dimulai dari gejala kecil yang dianggap tidak penting.

Tahun 1997, banyak pejabat Asia Tenggara meyakini ekonomi mereka baik-baik saja karena indikator makro masih tampak sehat. Beberapa bulan kemudian badai moneter datang seperti tsunami yang tidak sempat dibaca.

Di Amerika Serikat menjelang krisis finansial 2008, berbagai lembaga keuangan juga sibuk memamerkan angka pertumbuhan. Sampai akhirnya pasar perumahan runtuh dan menyeret ekonomi dunia.

Tentu kondisi Indonesia hari ini tidak bisa disamakan dengan dua peristiwa tersebut.

Namun pelajarannya sederhana.

Kadang-kadang suara pertama dari sebuah masalah bukan berasal dari laporan statistik.

Ia datang dari orang-orang yang berada paling bawah.

Dari kasir minimarket.

Dari tukang ojek.

Dari pedagang sayur.

Dari pemilik warteg.

Mereka adalah sensor ekonomi yang bekerja dua puluh empat jam tanpa perlu survei dan anggaran negara.

Karena itu, ketika warteg mulai sepi, mungkin memang belum cukup untuk menyimpulkan ekonomi sedang sakit.

Tetapi juga terlalu arogan jika menganggap keluhan mereka sekadar anekdot yang tidak penting.

Sebab warteg bukan hanya tempat makan.

Ia adalah laboratorium sosial paling jujur di Indonesia.

Di sana berkumpul buruh, pegawai honorer, mahasiswa, sopir, kurir, hingga pekerja harian. Jika pelanggan warteg mulai mengurangi lauk atau datang lebih jarang, ada sesuatu yang sedang bergerak di bawah permukaan.

Mungkin belum menjadi krisis.

Mungkin hanya sinyal.

Tetapi setiap alarm memang diciptakan bukan untuk membuktikan rumah sudah terbakar, melainkan agar orang sadar ada kemungkinan api mulai menyala.

Pemerintah tentu berhak percaya pada data BPS. Memang itulah gunanya statistik negara.

Namun sesekali, mungkin para penyusun kebijakan perlu duduk di warteg saat jam makan siang. Bukan untuk survei. Bukan untuk konferensi pers.

Cukup mendengar.

Karena kadang-kadang, satu piring nasi dengan sambal dan telur dadar bisa menceritakan keadaan ekonomi lebih jujur daripada seratus halaman presentasi.

Dan di negeri ini, suara sendok yang makin jarang beradu dengan piring sering kali lebih layak didengar daripada tepuk tangan di ruang rapat.***

*) Wartawan Senior “Lampung Post” tinggal di Kalimantan.