INFORMASI
DIFa TV Terbit Sejak 1 Agustus 2004 - DIFa TV Merupakan Media Siber Online dan Koran Cetak. Kantor Redaksi DIFA TV Berada Di Jalan Sultan Agung, Gang Perdana Jaya, Labuhan Ratu, Bandar Lampung, Lampung.
Blog  

‘IDUL FITRI MERUPAKAN REFRESENTATIF KEMBALI KEPADA TUHAN

Oleh : Ustadz. Dr. Muhammad Irfan, S.H.I. M.Sy

Edotor : Redaksi DIFa TV Lampung

Idulfitri terdiri dari dua kata: “Id” yang berarti kembali, dan “Fitri” yang berarti suci. Secara sederhana, Idulfitri dimaknai sebagai kembali kepada kesucian. Ditinjau dari sisi tekstual, terdapat dua makna utama Idulfitri, yaitu kembali kepada kebiasaan makan di pagi hari dan kembali kepada keadaan suci. Sementara itu, secara kontekstual, Idulfitri dimaknai sebagai tersambungnya ruh manusia kepada Allah SWT, baik selama bulan Ramadan maupun di luar Ramadan.

Makna kembali kepada makan pagi tercermin dalam anjuran fiqh agar makan terlebih dahulu sebelum melaksanakan salat Idulfitri, berbeda dengan Iduladha. Dari kebiasaan ini kemudian berkembang tradisi “open house”, yakni rumah terbuka yang memungkinkan siapa saja menikmati hidangan yang disediakan oleh tuan rumah.

Adapun makna kembali kepada kesucian mencakup kesucian lahir dan batin. Kesucian lahir tampak pada kebersihan tubuh, pakaian, dan lingkungan. Oleh karena itu, disunnahkan untuk mandi sebelum salat Idulfitri serta memakai wewangian. Sementara kesucian batin tercermin dari hati yang bersih. Hal ini terlihat dari fenomena banyak orang yang menangis haru saat Idulfitri, meskipun suasananya penuh kebahagiaan. Secara logika hal ini mungkin tampak bertentangan, namun justru itulah tanda kelembutan dan kebersihan hati.

Contoh lainnya adalah tradisi saling berjabat tangan sambil mengucapkan “Minal ‘aidin wal faizin” yang sering disertai permohonan maaf lahir dan batin. Meskipun bukan terjemahan langsung, hal ini menjadi wujud nyata dari semangat Idulfitri. Banyak orang yang bahkan tidak saling mengenal tetap dengan ringan meminta dan memberi maaf. Hal ini menunjukkan bahwa pada dasarnya manusia memiliki fitrah untuk memaafkan.

Begitu pula ketika menerima tamu. Sering kali kita menyambut orang yang tidak dikenal dengan ramah, mempersilakan masuk, serta menyuguhkan makanan. Hal ini terjadi karena pada dasarnya manusia memiliki kecenderungan untuk berbagi dan memberi, bahkan kepada orang yang belum dikenal.

Fenomena ini juga terlihat ketika anak-anak datang bersilaturahmi. Meskipun tidak saling mengenal, kita dengan ringan hati memberikan uang sekadarnya. Nilai yang utama bukanlah jumlah pemberian tersebut, melainkan keikhlasan di dalamnya. Hal ini kembali menunjukkan bahwa fitrah manusia adalah senang membantu tanpa membeda-bedakan.

Secara kontekstual, Idulfitri mengandung makna yang lebih dalam, yaitu keadaan di mana ruh seseorang selalu terhubung dengan Allah SWT (wushul ilallah). Seperti yang diungkapkan oleh Syeikh Ibnu Athaillah As-Sakandari bahwa ada hamba Allah yang jasadnya berada di bumi, namun ruhnya berada di langit. Artinya, seseorang bisa saja berprofesi sebagai pengusaha, pedagang, guru, atau pemimpin, tetapi hatinya senantiasa mengingat Allah. Demikian pula para ulama yang terus istiqamah melanjutkan perjuangan Rasulullah SAW, jasad mereka di dunia, tetapi ruhnya selalu dekat dengan Allah.

Pada akhirnya, ada orang yang berada dalam suasana Idulfitri namun belum merasakan hakikatnya, ada pula yang suasana dan dirinya sama-sama merasakan Idulfitri. Bahkan ada yang meskipun tidak dalam suasana Idulfitri, tetapi jiwanya senantiasa dalam keadaan Idulfitri kapan pun dan di mana pun, yaitu mereka yang hatinya selalu condong kepada Allah SWT. Wallahu a’lam.