INFORMASI
DIFa TV Terbit Sejak 1 Agustus 2004 - DIFa TV Merupakan Media Siber Online dan Koran Cetak. Kantor Redaksi DIFA TV Berada Di Jalan Sultan Agung, Gang Perdana Jaya, Labuhan Ratu, Bandar Lampung, Lampung.

26 Hari Menempa Pemburu Teror

OPINI

Oleh: Majid Lintang *)

Pagi itu, udara Semarang belum sepenuhnya hangat ketika barisan personel Brimob berdiri tegak di kawasan Akademi Kepolisian. Di balik prosesi upacara yang berlangsung formal, tersimpan sebuah pesan yang jauh lebih besar daripada sekadar pembukaan pelatihan rutin. Indonesia sedang mempersiapkan para penjaga garda depan menghadapi ancaman yang terus berubah wajah.

Kamis, 4 Juni 2026, Pelatihan Wanteror Dasar Korps Brimob Polri resmi dimulai. Selama 26 hari ke depan, hingga 29 Juni 2026, para peserta akan ditempa di Detasemen Platina Satuan Latihan Brimob Korbrimob Polri, Kompleks Akpol Semarang, Jawa Tengah.

Bagi sebagian orang, terorisme mungkin terdengar seperti ancaman yang jauh, muncul sesekali dalam berita, lalu menghilang dari perhatian publik. Namun bagi aparat keamanan, ancaman tersebut tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya berganti bentuk, berganti metode, dan beradaptasi mengikuti perkembangan zaman.

Kemajuan teknologi digital, arus informasi tanpa batas, hingga penyebaran paham radikal melalui berbagai platform menjadi tantangan baru yang harus dihadapi aparat keamanan. Di era ketika propaganda bisa menyebar hanya dalam hitungan detik dan jaringan ekstremisme dapat terbentuk tanpa batas geografis, kemampuan personel tidak lagi cukup hanya mengandalkan keberanian dan kekuatan fisik.
Mereka harus memahami pola ancaman modern.

Mereka harus mampu membaca situasi yang kompleks.

Dan mereka harus siap bertindak secara cepat, tepat, sekaligus terukur.

Pesan itulah yang mengemuka dalam amanat Plt. Dansatlat Brimob Korbrimob, Brigjen Pol. Deonijiu De Fatima, saat membuka pelatihan tersebut. Menurutnya, dinamika keamanan nasional yang semakin kompleks menuntut kesiapan seluruh personel Polri, khususnya Korps Brimob, dalam menghadapi berbagai potensi gangguan keamanan, termasuk aksi terorisme.

Pelatihan Wanteror Dasar kemudian menjadi salah satu instrumen penting untuk memastikan kesiapan tersebut.

Bukan sekadar mengajarkan teknik penanggulangan teror, pelatihan ini juga dirancang untuk membangun fondasi profesionalisme personel. Para peserta dibekali pemahaman mengenai taktik, teknik, dan prosedur yang sesuai standar operasional, sehingga setiap tindakan yang dilakukan di lapangan memiliki dasar kemampuan yang kuat dan terukur.

Namun kemampuan teknis hanyalah satu sisi dari mata uang.

Di lingkungan Korps Brimob, ketangguhan mental, disiplin, loyalitas, dan karakter pengabdian tetap menjadi nilai utama yang tidak bisa dipisahkan. Seorang personel yang terlatih tidak hanya dituntut mampu menghadapi ancaman bersenjata, tetapi juga harus memiliki kematangan sikap dalam menjalankan tugas sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat.

Tema pelatihan tahun ini mencerminkan semangat tersebut: “Melalui Pelatihan Wanteror Dasar, Korps Brimob Polri Hadir sebagai Pelindung, Pengayom dan Pelayan Masyarakat.”

Tema yang sederhana, tetapi memiliki makna yang mendalam.
Sebab pada akhirnya, kemampuan kontra-teror bukan semata soal operasi dan persenjataan. Tujuan akhirnya tetap sama: memastikan masyarakat dapat hidup dengan aman, beraktivitas dengan tenang, dan menjalani kehidupan tanpa rasa takut.

Selama hampir satu bulan ke depan, para peserta akan menjalani berbagai tahapan latihan yang menguras fisik sekaligus menguji mental. Mereka akan belajar dari para instruktur, menyerap pengalaman lapangan, dan membangun kesiapan menghadapi berbagai kemungkinan yang dapat terjadi di masa depan.

Di tengah dunia yang terus berubah dan ancaman yang semakin sulit diprediksi, pelatihan seperti ini menjadi pengingat bahwa keamanan tidak lahir secara tiba-tiba. Ia dibangun melalui proses panjang, disiplin yang ketat, serta kesiapan yang terus diasah setiap hari.

Dan di Semarang, pada Juni 2026 ini, proses itu kembali dimulai.

Selama 26 hari, para personel Brimob tidak hanya sedang mengikuti pelatihan. Mereka sedang ditempa menjadi garda terdepan yang suatu hari mungkin akan berdiri di antara masyarakat dan ancaman yang datang tanpa peringatan.***

*) Wartawan Senior “Lampung Post” tinggal di Kalimantan.