OPINI
Oleh: Majid Lintang *)
PADA suatu pagi yang mengubah sejarah Aceh, laut datang dengan amarah yang tak pernah dibayangkan manusia. Gelombang raksasa yang kemudian dikenal dunia sebagai Tsunami Samudra Hindia 2004 menggulung daratan, meruntuhkan rumah, dan merenggut ratusan ribu nyawa. Di antara para penyintas tragedi itu, ada seorang anak perempuan yang selamat dari kehancuran tersebut. Namanya Selly Gabriella.
Bagi banyak orang, bencana besar meninggalkan luka panjang. Namun bagi Selly, pengalaman masa kecil itu perlahan menempa keberanian dan ketangguhan yang kelak membawanya ke panggung yang jauh lebih luas—panggung kemanusiaan dunia.
Perempuan kelahiran Banda Aceh, 1 Juni 1993 itu kini dikenal sebagai Brigadir Polisi Satu dari Kepolisian Negara Republik Indonesia. Ia bertugas di Satuan Lalu Lintas Polresta Banda Aceh, menjalani hari-hari seperti polisi pada umumnya: berdiri di persimpangan jalan, mengatur arus kendaraan, dan menjaga ketertiban kota yang perlahan pulih dari luka sejarahnya.
Namun perjalanan hidup Selly tidak berhenti di jalanan Banda Aceh.
Langkahnya sebagai abdi negara dimulai ketika ia menamatkan pendidikan kepolisian di SPN Polda Metro Jaya pada 2014. Setahun kemudian, ia resmi berdinas di Polresta Banda Aceh. Dalam tugasnya di fungsi lalu lintas, Selly dikenal tekun dan disiplin—dua kualitas yang menjadi fondasi penting bagi kariernya.
Di balik tugas rutinnya, ia terus menyiapkan diri. Ia aktif berlatih olahraga kempo untuk menjaga kebugaran fisik, memperkuat mental disiplin, serta memperdalam kemampuan bahasa asing. Bahasa Inggris dan Prancis dikuasainya dengan baik, sebuah modal penting bagi siapa pun yang ingin berkiprah dalam misi internasional.
Persiapan itu akhirnya menemukan jalannya ketika Selly lolos seleksi ketat untuk menjadi bagian dari pasukan penjaga perdamaian dunia. Ia bergabung dalam Satgas Formed Police Unit yang bertugas di misi United Nations Multidimensional Integrated Stabilization Mission in the Central African Republic atau MINUSCA, sebuah operasi perdamaian milik Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Penugasan ini membawa Selly jauh dari tanah kelahirannya menuju Republik Afrika Tengah, negara di jantung Afrika yang selama bertahun-tahun dilanda konflik bersenjata dan krisis kemanusiaan.
Di wilayah yang rawan kekerasan itu, tugas pasukan perdamaian tidaklah ringan. Selly bersama rekan-rekannya bertanggung jawab mengamankan fasilitas vital PBB, melindungi para pengungsi yang tinggal di kamp-kamp penampungan, serta memastikan bantuan kemanusiaan dapat sampai kepada masyarakat yang membutuhkan.
Setiap hari adalah ujian ketahanan mental dan fisik. Namun pengalaman hidup Selly telah menyiapkannya menghadapi situasi sulit. Ia pernah melihat bagaimana sebuah bencana mampu menghapus kota dalam hitungan menit. Dari pengalaman itu, ia belajar bahwa keberanian sering lahir dari kemampuan manusia untuk bangkit setelah kehilangan.
Di luar profesinya sebagai polisi, Selly juga dikenal memiliki kecintaan terhadap dunia penyelaman. Pada 2019 ia ikut serta dalam pemecahan rekor dunia penyelaman massal di Manado. Di bawah laut, seorang penyelam belajar tentang ketenangan, konsentrasi, dan kepercayaan pada rekan di sekitarnya—nilai-nilai yang ternyata juga sangat penting bagi seorang penjaga perdamaian.
Setelah melalui pelatihan praoperasi pada awal 2021, Selly akhirnya diberangkatkan pada September tahun yang sama untuk menjalankan misi di Afrika. Ia membawa lebih dari sekadar perlengkapan tugas; ia membawa cerita tentang seorang penyintas yang memilih bangkit dan memberi arti pada hidupnya.
Bagi Polresta Banda Aceh, kehadiran Selly dalam misi internasional menjadi kebanggaan tersendiri. Ia menunjukkan bahwa polwan dari Aceh memiliki kapasitas intelektual, fisik, dan mental yang diakui di panggung global.
Perjalanan Selly Gabriella pada akhirnya bukan sekadar kisah tentang seorang polisi yang bertugas di luar negeri. Ia adalah cerita tentang bagaimana luka masa lalu dapat berubah menjadi sumber kekuatan. Dari tanah yang pernah dilanda tsunami, seorang perempuan Aceh kini berdiri di garis depan menjaga harapan bagi manusia lain yang hidup di tengah konflik.
Seperti lingkaran kehidupan yang tak terduga: dahulu dunia datang membantu Aceh setelah bencana besar. Kini, dari Aceh pula lahir seorang penjaga perdamaian yang mengulurkan perlindungan bagi dunia.***
*) Jurnalis







