INFORMASI
DIFa TV Terbit Sejak 1 Agustus 2004 - DIFa TV Merupakan Media Siber Online dan Koran Cetak. Kantor Redaksi DIFA TV Berada Di Jalan Sultan Agung, Gang Perdana Jaya, Labuhan Ratu, Bandar Lampung, Lampung.
Blog  

Cahaya Lampion di Tepi Teluk: Imlek di Balikpapan

OPINI

Oleh: Majid Lintang *)

DI TEPI Teluk Balikpapan, angin laut berembus lembut membawa aroma asin yang menyatu dengan wangi dupa. Malam itu, langit seperti ikut menunduk, memberi ruang bagi cahaya lampion yang menggantung merah menyala di sepanjang jalan menuju vihara. Kota ini—yang biasa riuh oleh deru kendaraan dan denyut industri—tiba-tiba berubah menjadi panggung kehangatan.

Di sudut kota, berdiri anggun Vihara Eka Dharma Manggala. Gerbangnya dipenuhi ukiran naga dan singa, seakan menjadi penjaga waktu yang setia. Di halaman vihara, umat berdatangan dengan pakaian terbaik mereka. Anak-anak berlarian kecil, membawa lampion mungil, sementara orang tua menenteng jeruk dan kue keranjang—simbol harapan dan kemakmuran.

Imlek di Balikpapan bukan sekadar perayaan pergantian tahun dalam kalender lunar. Ia adalah perjumpaan lintas generasi dan lintas budaya. Di kota minyak ini, di mana beragam suku dan agama hidup berdampingan, Imlek menjadi momen ketika warna merah dan emas menyatu dengan senyum yang tulus.

Dentum tambur barongsai memecah malam. Dua singa berwarna cerah meloncat lincah, menari di atas tiang-tiang besi dengan gerakan akrobatik yang memukau. Sorak-sorai warga membahana. Tidak hanya warga Tionghoa, tetapi juga tetangga dari berbagai latar belakang, ikut menyaksikan dengan mata berbinar. Di sela-sela pertunjukan, terdengar bisik doa: agar tahun yang baru membawa kesehatan, rezeki, dan kedamaian.

Di meja-meja rumah, hidangan khas tersaji hangat. Ikan utuh melambangkan kelimpahan, mie panjang umur mengisyaratkan harapan hidup yang panjang, dan kue keranjang yang lengket menjadi simbol eratnya persaudaraan. Tawa keluarga pecah ketika angpao berpindah tangan—bukan semata soal nominal, melainkan tentang restu dan kasih sayang yang terselip di dalam amplop merah.

Seorang nenek menyalakan lilin, matanya terpejam khusyuk. Ia mengenang masa kecilnya, ketika Imlek dirayakan dengan sederhana, bahkan pernah dalam sunyi. Kini, di Balikpapan yang modern dan terbuka, perayaan itu berlangsung meriah dan penuh penerimaan. Waktu telah mengajarkan bahwa tradisi bukan sekadar warisan, melainkan jembatan untuk saling memahami.

Ketika malam semakin larut, doa-doa dilepaskan ke langit. Kembang api merekah di atas teluk, memantulkan cahaya di permukaan air yang tenang. Sejenak, kota ini seperti berhenti bernapas—terpaku pada keindahan yang menggantung di angkasa.

Imlek di Balikpapan adalah kisah tentang cahaya di tengah keberagaman. Tentang lampion yang tak hanya menerangi jalan menuju vihara, tetapi juga menyalakan harapan di hati setiap orang. Di kota ini, tahun baru bukan hanya pergantian angka, melainkan pengingat bahwa harmoni selalu mungkin tumbuh—selama ada ruang untuk saling menghormati dan berbagi cahaya.***

*) Mantan Redaktur “Lampung Post”