INFORMASI
DIFa TV Terbit Sejak 1 Agustus 2004 - DIFa TV Merupakan Media Siber Online dan Koran Cetak. Kantor Redaksi DIFA TV Berada Di Jalan Sultan Agung, Gang Perdana Jaya, Labuhan Ratu, Bandar Lampung, Lampung.

Catatan Tertinggal Tentang Bang Syamsul: Di Balik Koreksi Merah Sang Redaktur

CATATAN KENANGAN SANG REDAKTUR

Oleh: Abdul Majid *)

Difatv.com — Kalau mengingat Bang Syamsul, dada saya selalu penuh oleh campuran rasa takut, hormat, dan rindu. Kini, Bang Syamsul telah pergi pada . Tapi setiap kali saya melihat tanda baca, judul berita, atau sekadar membuka layar komputer, saya seperti mendengar kembali suaranya—tegas namun lembut — mengingatkan bahwa kata-kata harus dijaga, dan harga diri harus dipertahankan.

Bang Syamsul, Syamsul Bahri Nasution — sang kreator, mentor, dan pembimbing — dipanggil pulang pada Minggu (15/2/2026) malam pukul 22.30 WIB di RS Urip Sumoharjo. Almarhum disemayamkan pada Senin (16/2/2026) di rumah duka, Jalan Perwira 3, Rajabasa dan dimakamkan di TPU Beringin Raya Kemiling, dekat SMPN 13, Kota Bandarlampung, Zuhur.

Kisah mengenalnya berawal sejak sebelum beliau benar-benar datang ke Lampung pada awal 90-an, namanya sudah lebih dulu mengguncang ruang redaksi SKH Lampung Post. Setiap hari, satu bundel tebal catatan koreksi tiba di meja kami—penuh coretan kesalahan judul, kalimat, tanda baca, hingga susunan lead. Tak ada yang luput. Dari halaman utama sampai halaman terakhir, semuanya seperti habis dihakimi tinta merah.

Nama itu tertera tegas: Syamsul Bahri Nasution. Kami merasa kecil, kerdil, dan bodoh. Di benak saya, beliau seperti “Dewa Redaksi” yang mengerikan—dingin, galak, tak kenal kompromi. Namun takdir mempertemukan kami.

Ketika akhirnya beliau dikirim untuk memperkuat redaksi SKH Lampung Post, bayangan seram itu runtuh seketika. Di balik ketegasan koreksi, ternyata berdiri sosok yang rendah hati, lembut tutur katanya, dan mengayomi. Beliau bukan dewa yang menakutkan, melainkan guru yang sabar.

Ironisnya, saya justru menjadi bawahan yang tak disukai. Saat “BS”—begitu kami menyapanya—menjabat redaktur pelaksana, saya adalah asisten redaktur yang nakal. Sering membuatnya jengkel. Pernah saya menjebol password komputernya, membongkar folder rahasia berisi film pilihan, lalu menyalinnya ke komputer saya.

Syamsul Bahri Nasution

Saya juga kerap mangkir dari rapat budget sore — semacam evaluasi perolehan berita hari ini — padahal itu kewajiban.

Beliau marah? Tentu.
Kecewa? Pasti.

Tapi tidak pernah sekali pun beliau menjatuhkan saya. Kedekatan kami justru tumbuh dari situasi-situasi genting.

Ketika Bang Syamsul membangun rumah di Perwira, Rajabasa, para tukangnya dipalak warga sekitarnya. Beliau menghubungi saya. Tanpa pikir panjang, saya datang bersama seorang jawara dari Kampung Pelita, Enggal. Masalah selesai.

Tahun 1998, saat gelombang reformasi mengguncang negeri, rumah beliau kembali terancam. Spanduk bertuliskan “Tanah Milik Rakyat Rajabasa” terpasang di depan rumahnya. Bersama almarhum Bang H. Effendi Rambe, kami membagi tugas menemui aktor-aktor di balik layar.

Satu per satu saya datangi mereka—diam-diam, saat suasana sepi. Pengintaian lebih dulu saya lakukan. Tegang? Tentu. Tapi syukur, rasa takut masih tersisa dalam diri mereka. Spanduk pun turun. Rumah itu aman hingga hari ini.

Di situlah saya tahu: Bang Syamsul bukan hanya redaktur yang lihai mengoreksi kata, tetapi kepala keluarga yang sedang mempertahankan harga diri dan masa depan.

Saat rehat dari dunia jurnalistik, tak lagu di SKH Lampung Post dan Trans Sumatera, kenangan paling menegangkan terjadi menjelang puasa tahun 2005. Bang Syamsul membutuhkan Rp30 juta untuk disetor ke PLN terkait proyek jaringan listrik di Rumbia dan Kalipasir.

Semua kolektor sudah menyetor, kecuali satu: Pak Wisnu, tokoh masyarakat Bali yang disegani, bahkan telah mencapai tingkatan guru di komunitasnya.

Saya diutus mengambil uang itu.
Malam sebelum, saya menemuinya, pertengkaran sengit terjadi lewat telepon antara Bang Syamsul dan Pak Wisnu. Ancaman keluar: rumah Bang Syamsul akan diserbu dan dibakar.

Saya menginap di rumah pegawai kecamatan. Pagi harinya, meski diperingatkan suasana masih panas, saya tetap berangkat menemui Pak Wisnu. Wajahnya masam. Kata-katanya tajam. Ancaman dan makian mengalir deras.

Baru saat itu saya tahu akar persoalannya: ada hak upahnya yang belum dibayarkan. Uang Rp30 juta ditahannya sebagai kompensasi. Saya berada di persimpangan: Bang Syamsul terdesak kewajiban ke PLN, sementara Pak Wisnu menuntut keadilan.

Setelah amarahnya tumpah seluruhnya, saya mulai bicara pelan. Persuasif. Tanpa meninggikan suara. Lima belas menit yang terasa seperti satu jam. Hening menggantung di udara.

Dan tiba-tiba, suasana berubah.
Hati Pak Wisnu luluh. Uang itu diserahkan. Masalah selesai. Saya pulang dengan napas panjang—dan keyakinan bahwa kepercayaan Bang Syamsul pada saya bukan tanpa alasan.

Dari sosok yang dulu saya bayangkan sebagai “dewa mengerikan”, beliau menjelma menjadi guru, pemimpin, sekaligus orang tua. Jasa beliau terhadap saya tak terhitung—terutama saat saya berada dalam kesulitan finansial.

Beliau membantu tanpa banyak bicara, tanpa pernah mengungkit kembali.

Kini, Bang Syamsul telah pergi.
Tapi setiap kali saya melihat tanda baca, judul berita, atau sekadar membuka layar komputer, saya seperti mendengar kembali suaranya—tegas namun lembut—mengingatkan bahwa kata-kata harus dijaga, dan harga diri harus dipertahankan.

Selamat jalan, Bang.
Di balik tinta merah koreksimu, ada cinta yang tak pernah kami sadari sepenuhnya. Wassalam. ***

*) Mantan Redaktur “Lampung Post”